Taktiknews.cm, Pekanbaru – Kabar baik datang bagi petani kelapa sawit di Provinsi Riau. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik pekebun mitra swadaya kembali mengalami kenaikan untuk periode 11–17 Maret 2026. Kenaikan ini diputuskan dalam rapat penetapan harga yang digelar Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Selasa (10/3/2026).
Dalam rapat yang dipimpin Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Dr. Defris Hatmaja, bersama tim penetapan harga TBS, disepakati bahwa harga sawit pekebun kembali meningkat pada pekan kedelapan tahun 2026. Kenaikan paling signifikan terjadi pada tanaman sawit berumur 9 tahun.
Untuk kelompok umur tersebut, harga TBS tercatat naik sebesar Rp129,83 per kilogram atau sekitar 3,65 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Dengan kenaikan itu, harga TBS sawit umur 9 tahun kini mencapai Rp3.682,22 per kilogram.
Kenaikan harga ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga crude palm oil (CPO) dan inti sawit (kernel) di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS). Kondisi tersebut turut mendorong naiknya harga beli TBS yang diterima petani.
“Peningkatan harga minggu ini dipengaruhi oleh naiknya harga CPO dan kernel, sehingga berdampak langsung terhadap harga TBS di tingkat petani,” ujar Defris.
Penetapan harga TBS periode ini mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 13 Tahun 2024 tentang pembelian TBS produksi pekebun mitra serta Keputusan Dirjen Perkebunan Nomor 144/Kpts./PP.320/E/12/2025 mengenai pedoman umum pembelian TBS dari petani mitra. Dalam regulasi tersebut, penetapan harga menggunakan rentang umur tanaman sawit antara 3 hingga 30 tahun.
Dalam proses penetapan harga kali ini, tim juga mencatat adanya beberapa pabrik kelapa sawit yang tidak melakukan transaksi penjualan. Sesuai ketentuan dalam Permentan Nomor 13 Tahun 2024 Pasal 16, apabila tidak terjadi transaksi, maka harga yang digunakan adalah harga rata-rata tim. Jika memasuki tahap validasi kedua, maka acuan harga menggunakan rata-rata harga KPBN.
Untuk periode ini, harga rata-rata CPO KPBN tercatat sebesar Rp14.710 per kilogram, sedangkan harga kernel KPBN berada di angka Rp14.203 per kilogram.
Secara keseluruhan, harga CPO pada periode ini meningkat sekitar Rp570,56 per kilogram, sementara harga kernel naik Rp317,61 per kilogram dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, harga cangkang ditetapkan sebesar Rp22,60 per kilogram dengan indeks K sebesar 92,66 persen.
Dinas Perkebunan Riau juga menegaskan bahwa proses penetapan harga TBS terus diperbaiki agar lebih transparan dan adil bagi seluruh pihak, baik perusahaan maupun petani.
“Tim penetapan harga terus melakukan pembenahan tata kelola agar proses penentuan harga berjalan sesuai regulasi dan memberikan rasa keadilan bagi perusahaan serta petani yang bermitra,” jelas Defris.
Menurutnya, perbaikan sistem ini merupakan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan yang juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau.
Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan petani sawit di daerah.
“Jika tata kelola terus diperbaiki, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh petani melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Daftar Harga TBS Sawit Riau (Mitra Swadaya)
Periode 11–17 Maret 2026
Umur 3 tahun: Rp2.853,59/kg
Umur 4 tahun: Rp3.180,97/kg
Umur 5 tahun: Rp3.412,02/kg
Umur 6 tahun: Rp3.542,97/kg
Umur 7 tahun: Rp3.623,06/kg
Umur 8 tahun: Rp3.666,73/kg
Umur 9 tahun: Rp3.682,22/kg
Umur 10–20 tahun: Rp3.644,86/kg
Umur 21 tahun: Rp3.584,42/kg
Umur 22 tahun: Rp3.514,54/kg
Umur 23 tahun: Rp3.435,08/kg
Umur 24 tahun: Rp3.374,83/kg
Umur 25 tahun: Rp3.325,49/kg
Umur 26 tahun: Rp3.307,69/kg
Umur 27 tahun: Rp3.280,26/kg
Umur 28 tahun: Rp3.228,18/kg
Umur 29 tahun: Rp3.189,84/kg
Umur 30 tahun: Rp3.102,22/kg
Selain itu, rata-rata harga CPO periode ini mencapai Rp14.776,36 per kilogram, sedangkan harga kernel sebesar Rp14.244,93 per kilogram dan harga cangkang Rp22,60 per kilogram.
Dengan tren kenaikan tersebut, diharapkan pendapatan pekebun sawit swadaya di Riau dapat terus meningkat seiring membaiknya harga komoditas sawit di pasar.***












