Peristiwa

Lima Hari Mengejar Api, Karhutla 85 Hektare Kepung Gambut Rangsang

177
×

Lima Hari Mengejar Api, Karhutla 85 Hektare Kepung Gambut Rangsang

Sebarkan artikel ini
Karhutla 85 hektare di Pulau Rangsang memasuki hari kelima. Petugas menembus gambut dan hutan untuk mengejar bara yang sulit dipadamkan. Minggu (6/9/2026)./R45/AH.

Rakyat45.com, Rangsang – Lima hari bukan waktu singkat untuk mengejar api yang terus mencari celah di balik hamparan gambut. Karhutla 85 hektare Meranti di Desa Gemalasari, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, masih menjadi medan berat bagi petugas gabungan yang berupaya menghentikan rambatan kebakaran.

Kawasan yang terbakar memiliki karakter berbeda dari lahan biasa. Lapisan gambut sedalam sekitar tiga hingga empat meter memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan, lalu kembali menyala ketika mendapat suplai oksigen.

Situasi itu membuat pemadaman tidak cukup dilakukan dengan menundukkan kobaran yang tampak. Petugas juga harus memburu kepala api, yakni bagian terdepan dari rambatan kebakaran, sekaligus memastikan bara yang tersembunyi tidak kembali berkembang.

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita menyebut kondisi medan menjadi salah satu kendala utama. Angin yang cukup kencang, terutama karena lokasi kebakaran berada dekat laut, turut menyulitkan pengendalian api.

“Karena ini lahannya adalah gambut dengan kedalaman tiga sampai empat meter sehingga tidak menutup kemungkinan bisa menyala kembali. Angin cukup kencang juga menjadi hambatan kita di sini karena dekat dengan laut,” ujar Gede. Minggu (6/9/2026).

Akses menuju titik kebakaran menjadi tantangan berikutnya. Petugas harus menempuh jalan setapak sekitar setengah kilometer yang hanya dapat dilalui sepeda motor. Perjalanan kemudian berlanjut hingga sekitar dua kilometer ke dalam kawasan hutan.

“Keterbatasan jangkauan mesin pemadam membuat penanganan semakin kompleks ketika kobaran telah menyebar puluhan hektare. Bantuan mesin Mark III dari pihak perusahaan digunakan untuk menjangkau titik api yang berada jauh dari akses utama.” ungkapnya.

Kekuatan personel pun diperbesar. Ratusan anggota kepolisian, TNI, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), pihak perusahaan dan warga terlibat dalam operasi. Memasuki hari kedua, Polres Kepulauan Meranti mendapat dukungan personel BKO Polda Riau dan Brimob.

Tim bekerja dari darat dan udara. Water bombing dikerahkan untuk membantu menjangkau titik-titik yang sulit dicapai pasukan darat, sementara pendinginan dilakukan setelah api berhasil ditekan. Kanal pembatas juga dibuat untuk menghambat kemungkinan rambatan berikutnya.

Hingga hari keempat, petugas masih mengejar kepala api dari sisi barat. Sementara itu, sisi utara dan timur dijaga agar kobaran tidak bergerak menuju permukiman dan kebun milik warga.

Upaya penanganan kemudian diarahkan pada pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali berulang. Kepolisian memetakan kawasan rawan karhutla, mendorong pembangunan embung dan sekat kanal, serta mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Gede menegaskan, “Aktivitas memerun tidak dibenarkan,” mengingat hampir seluruh wilayah Kepulauan Meranti merupakan kawasan gambut.

Kasus Gemalasari menunjukkan betapa cepat pembukaan lahan dengan api dapat berubah menjadi kebakaran berskala luas. Ketika api masuk ke lapisan gambut, penanganannya tidak lagi berpacu dengan kobaran yang terlihat, tetapi dengan bara yang dapat bertahan dan muncul kembali kapan saja.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *